Sunnah pada Hari Raya Idul Fitri

Sunnah pada Hari RayaIdul Fitri ~ Idul Fitri ialah hari yg tak asing bagi umat muslimin di seluruh dunia. Hari yg penuh berkah dan suka cita, di mana umat muslimin dibolehkan kembali makan & minum pada siang hari setelah satu bulan lamanya berpuasa. Akan tetapi, bila kita tinjau kembali perayaan Idul Fitri yg tlah kita lakukan, apakah sudah sesuai apa yg kita lakukan dg keinginan Alloh & Rosul-Nya? Atau malah kita melakukan hal-hal yg bertentangan dg perintah-Nya, dg sekedar ikut-ikutan kebanyakan manusia? Untuk mengetahui perihal ini, mari kita perhatikan bersama bahasan berikut ini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri
Gambar Selamat Hari Raya Idul Fitri 

Perayaan Idul Fitri maupun Idul Adha merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Alloh. & ibadah tidak terlepas dari dua hal, yg semestinya harus ada, yaitu: (1) Ikhlas ditujukan hanya untuk Alloh semata & (2) Sesuai dg tuntunan Rosulullah shollallohu’alaihi wa sallam.

Ada beberapa hal yg dituntunkan Rosulullah shollallohu’alaihi wa sallam terkait dg pelaksanaan hari raya, di antaranya:
Mandi Sebelum ‘Ied: Disunnahkan bersuci dg mandi untuk hari raya karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk sholat. Akan tetapi, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah. (Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar – edisi Indonesia). Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat Idul Fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk sholat (HR. Malik, sanadnya shohih).

Berkata pula Imam Sa’id bin Al Musayyib, “Hal-hal yg disunnahkan saat Idul Fitri (di antaranya) ada tiga: Berjalan menuju tanah lapang, makan sebelum sholat ‘Ied, & mandi.” (Diriwayatkan oleh Al Firyabi dg sanad shohih, Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

Makan di Hari Raya: Disunnahkan makan saat Idul Fitri sebelum melaksanakan sholat & tidak makan saat Idul Adha sampai kembali dari sholat & makan dari daging sembelihan kurbannya. Hal ini berdasarkan hadits dari Buroidah, bahwa beliau berkata: “Rosulullah dahulu tidak keluar (berangkat) pada saat Idul Fitri sampai beliau makan & pada Idul Adha tidak makan sampai beliau kembali, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya.” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah, sanadnya hasan).

Imam Al Muhallab menjelaskan bahwa hikmah makan sebelum sholat saat Idul Fitri adalah agar tidak ada sangkaan bahwa masih ada kewajiban puasa sampai dilaksanakannya sholat Idul Fitri. Seakan-akan Rosulullah mencegah persangkaan ini. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

Memperindah (berhias) Diri pada Hari Raya: Dalam suatu hadits, dijelaskan bahwa Umar pernah menawarkan jubah sutra kepada Rosulullah shollallohu’alaihi wa sallam agar dipakai untuk berhias dg baju tersebut di hari raya & untuk menemui utusan. (HR. Bukhori & Muslim). Rosulullah shollallohu’alaihi wa sallam tidak mengingkari apa yg ada dalam persepsi Umar, yaitu bahwa saat hari raya dianjurkan berhias dg pakaian terbaik, hal ini menunjukkan tentang sunnahnya hal tersebut.

(Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan). Perlu diingat, anjuran berhias saat hari raya ini tidak menjadikan seseorang melanggar yg diharamkan oleh Alloh, di antaranya larangan memakai pakaian sutra bagi laki-laki, emas bagi laki-laki, & minyak wangi bagi umat wanita.

Berbeda Jalan antara Pergi ke Tanah Lapang & Pulang darinya: Disunnahkan mengambil jalan yg berbeda tatkala berangkat & pulang, berdasarkan hadits dari Jabir, beliau berkata, “Rosulullah membedakan jalan (saat berangkat & pulang) saat Idul Fitri.” (HR. Al Bukhori). Hikmahnya sangat banyak sekali di antaranya, agar dapat memberi salam pada orang yg ditemui di jalan, dapat membantu memenuhi kebutuhan orang yg ditemui di jalan, & agar syiar-syiar Islam tampak di masyarakat. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

Disunnahkan pula bertakbir saat berjalan menuju tanah lapang, karena sesungguhnya Nabi apabila berangkat saat Idul Fitri, beliau bertakbir hingga ke tanah lapang, & sampai dilaksanakan sholat, bila telah selesai sholat, beliau berhenti bertakbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah dg sanad yg shohih).

Dipersilahkan saling ucapkan selamat  Idul Fitri dg “taqobbalalloohu minnaa wa minkum” [Semoga Alloh menerima amal kita & amal kalian] atau dg “a’aadahulloohu ‘alainaa wa ‘alaika bil khoiroot war rohmah” [Semoga Alloh membalasnya bagi kita & kalian dg kebaikan & rahmat] seperti yang diriwayatkan dari beberapa sahabat Rasul. (Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar)

Sumber: id-id.facebook.com/dakwah17/posts/406707752711607


Tinggalkan Komentar: